
Inspirasi & Pengembangan Diri
A Peace to End All Peace
Bagaimana Eropa Membentuk Timur Tengah Modern dan Meninggalkan Warisan Konflik
David Fromkin
Dari arsip rahasia dan dokumen birokrat, sejarawan David Fromkin mengungkap bagaimana keputusan Eropa setelah Perang Dunia I menciptakan perbatasan dan negara-negara Timur Tengah yang hingga kini menjadi sumber ketegangan.
- Waktu baca
- 14 menit
- Bagian
- 9
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Pernah terpikir oleh kamu mengapa Timur Tengah selalu terasa seperti wilayah yang tidak pernah benar-benar tenang? Mengapa demokrasi di sana begitu rapuh, dan mengapa perbatasan antarnegaranya tampak seperti garis-garis yang dipaksakan di atas peta? Sejarawan David Fromkin mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama, lalu menggali dokumen-dokumen rahasia, surat-surat birokrat, dan jurnal para politisi untuk menemukan jawabannya. Kesimpulannya mengejutkan: wajah Timur Tengah seperti yang kita kenal sekarang sebagian besar adalah hasil keputusan-keputusan yang diambil Eropa selama dan setelah Perang Dunia I.
Ini bagian yang sering kita lewatkan: sebelum perang besar itu, negara-negara seperti Israel, Yordania, dan Suriah sama sekali tidak ada. Semuanya adalah bagian dari Kekaisaran Ottoman yang luas. Ketika perang berakhir, Eropa membongkar kekaisaran tersebut, menciptakan negara-negara baru beserta perbatasannya, bahkan memilih pemimpin-pemimpinnya, semuanya agar wilayah itu berguna bagi kepentingan Eropa. Namun keputusan-keputusan tersebut menyimpan bom waktu, dan dilema yang lahir darinya masih menjadi beban yang dipikul Timur Tengah hingga hari ini.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menelusuri kisah panjang ini, kita belajar bahwa Timur Tengah modern bukanlah hasil evolusi alami bangsa-bangsanya sendiri, melainkan sebagian besar buah keputusan para diplomat dan politisi Eropa yang duduk ribuan kilometer jauhnya, menggambar peta dengan penggaris di atas wilayah yang tidak mereka pahami. Kita memahami bagaimana Great Game, aliansi yang saling bertentangan, Perjanjian Sykes-Picot, Deklarasi Balfour, dan perjanjian 1922 menciptakan negara-negara baru dengan perbatasan artifisial, pemerintahan boneka, dan janji-janji yang tidak mungkin ditepati sekaligus.
Pelajaran terpentingnya mungkin adalah bahwa tindakan bersejarah selalu membawa konsekuensi yang berlipat ganda, bahkan hingga satu abad kemudian. Konflik Israel-Palestina, instabilitas Irak, perang saudara Lebanon, hingga pertanyaan tentang nasib bangsa Kurdi, semuanya bisa dilacak kembali ke keputusan-keputusan yang diambil selama rentang sepuluh tahun yang krusial itu. Dari sini kita belajar bahwa memaksakan solusi dari luar tanpa melibatkan suara masyarakat setempat hampir selalu berakhir dengan konflik yang berkepanjangan, sebuah pelajaran yang tetap relevan untuk dunia kita hari ini.
Sisanya untuk member
7 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



