Sampul Behind The Beautiful Forevers

Uang & Ekonomi

Behind The Beautiful Forevers

Potret Jujur Kehidupan di Balik Gemerlap Mumbai

Katherine Boo

Di balik dinding iklan mewah 'Beautiful Forever', tiga ribu jiwa di permukiman kumuh Annawadi berjuang bertahan hidup di tengah kemakmuran India yang tak mereka rasakan.

Waktu baca
14 menit
Bagian
9
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

Coba bayangkan dulu pemandangan ini bersama-sama. Di satu sisi jalan di Mumbai, ada dinding beton raksasa yang dipenuhi iklan mewah bertuliskan “Beautiful Forever”, mempromosikan ubin Italian premium untuk para kaya kota. Tapi di balik dinding itu, hanya beberapa puluh meter dari Bandara Internasional Mumbai, terselip sebuah permukiman kumuh setengah hektar bernama Annawadi, tempat tiga ribu jiwa berjuang setiap hari hanya untuk bertahan hidup. Nah, buku ini adalah kisah nyata tentang mereka, para penghuni yang hidup persis “di balik Beautiful Forevers” itu.

Kita akan mengikuti perjalanan beberapa tokoh nyata, dengan nama asli mereka tanpa diubah, mulai dari Abdul si remaja penjual sampah daur ulang, Asha si calon juragan kampung yang penuh strategi, sampai Sunil dan Kalu si pemulung muda. Yang bikin cerita ini begitu menusuk adalah ironinya: India sedang menikmati era kemakmuran dan globalisasi, tapi bagi penduduk Annawadi, kesempatan itu terasa seperti bayangan. Mereka bekerja lebih keras dari sebelumnya, namun tetap sulit bertahan hidup, sementara korupsi dan saling eksploitasi menjadi aturan main yang tidak tertulis.

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

Dari perjalanan panjang kita ke Annawadi ini, ada beberapa pelajaran besar yang bisa kita bawa pulang. Pertama, kita melihat betapa kompleksnya kemiskinan di era globalisasi: India tengah berkembang pesat dan jutaan orang terangkat dari kemiskinan, tapi bagi warga Annawadi, kemakmuran itu hanya dinding iklan yang mereka saksikan dari balik. Kedua, kita belajar bahwa ketika sistem pemerintahan dan penegakan hukum rusak oleh korupsi, orang-orang miskin tidak hanya kehilangan akses ke keadilan, tapi juga terpaksa saling mengeksploitasi satu sama lain demi bertahan. Ketiga, kisah-kisah Abdul, Sunil, Kalu, Fatima, dan Meena mengajarkan kita bahwa di balik statistik kemiskinan, ada manusia-manusia dengan mimpi, harga diri, dan perjuangan moral yang nyata, seperti tekad Abdul untuk menjadi “es” di tengah dunia yang terus mencoba melelehkannya menjadi air.

Sisanya untuk member

7 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Uang & Ekonomi