
Inspirasi & Pengembangan Diri
Eichmann in Jerusalem
Laporan tentang Banalitas Kejahatan dari Ruang Pengadilan Yerusalem
Hannah Arendt
Menyaksikan langsung pengadilan Adolf Eichmann pada 1961, Hannah Arendt menemukan bahwa kejahatan besar tidak selalu lahir dari monster, melainkan dari birokrat biasa yang patuh buta pada perintah. Buku ini melahirkan gagasan kontroversial banality of evil yang mengubah cara dunia memahami kejahatan.
- Waktu baca
- 12 menit
- Bagian
- 9
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu duduk di ruang pengadilan di Yerusalem pada tahun 1961, menyaksikan langsung pengadilan salah satu tokoh paling dibenci dalam sejarah manusia: Adolf Eichmann, pejabat Nazi yang mengatur transportasi jutaan orang Yahudi menuju kematian mereka di kamp konsentrasi. Masyarakat dunia membayangkan dirinya sebagai monster sadis, otak jahat yang merancang pembantaian dengan dingin. Namun ketika Hannah Arendt, seorang filsuf dan sejarawan terkemuka, mengamati pria itu di ruang sidang, ia melihat sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada monster: seorang birokrat biasa, orang yang membosankan, yang melakukan kejahatan luar biasa bukan karena sifatnya yang kejam, melainkan karena ambisi karier, rasa kewajiban, dan kepatuhan buta pada lingkungannya.
Dari pengamatan itulah lahir salah satu gagasan paling berpengaruh dalam pemikiran abad kedua puluh: kejahatan yang bersifat biasa, atau banality of evil. Buku ini mengajak kita melihat bahwa kejahatan besar dalam sejarah tidak selalu dilakukan oleh iblis berwujud manusia, tetapi bisa dilakukan oleh orang-orang biasa dengan motif-motif yang sangat, sangat biasa.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah mengikuti cerita ini, kamu akan memahami bagaimana peran Eichmann berevolusi dari seorang penasihat emigrasi yang dianggap pakar, menjadi perancang logistik deportasi, hingga akhirnya menjadi otak transportasi jutaan orang Yahudi menuju kamp kematian. Kamu juga akan melihat potret Eichmann yang jauh berbeda dari bayangan publik: seorang yang gagal dalam pendidikan dan karier, yang kepakarannya tentang orang Yahudi hanyalah kedok dari satu buku dan serangkaian promosi keberuntungan.
Lebih dalam lagi, kamu akan memahami tiga motif duniawi yang menggerakkan kejahatannya, yaitu haus akan kesuksesan, rasa kewajiban mematuhi perintah, dan konformitas sosial yang membuatnya menyerahkan penilaian moral kepada orang lain. Dan kamu akan diajak melihat sisi lain dari pengadilan Yerusalem 1961: pengadilan yang vonisnya benar, tetapi menurut Arendt kehilangan legitimasinya karena lebih berfungsi sebagai panggung pendidikan sejarah daripada ruang pengadilan yang adil dan berimbang.
Sisanya untuk member
7 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



