
Inspirasi & Pengembangan Diri
I Am Malala
Kisah Gadis yang Berani Berjuang untuk Pendidikan Perempuan
Malala Yousafzai
Dalam dunia yang membungkam, satu suara berani menantang. Malala Yousafzai mengisahkan perjuangannya untuk hak pendidikan perempuan di bawah ancaman Taliban, sebuah memoar menginspirasi tentang keberanian dan harapan.
- Waktu baca
- 13 menit
- Bagian
- 9
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
"Bayangkan kamu berumur sepuluh tahun, dan tiba-tiba sekelompok orang bersenjata datang ke kampung halamanmu. Mereka melarang musik, membakar televisi, dan memerintahkan para perempuan untuk tidak keluar rumah. Lalu mereka melarang anak perempuan bersekolah. Apa yang akan kamu lakukan? Untuk Malala Yousafzai, jawabannya sederhana namun luar biasa berani: dia tetap bersekolah, dan dia bersuara.\n\nBuku I Am Malala adalah kisah nyata seorang gadis Pakistan yang memperjuangkan hak pendidikan perempuan di tengah ancaman kematian, hingga akhirnya ditembak oleh Taliban pada usia lima belas tahun. Ini bukan sekadar memoar. Ini adalah perjalanan menyentuh tentang keberanian, keluarga, dan keyakinan bahwa satu suara, sekecil apa pun, bisa mengguncang dunia. Dan cerita ini diakhiri dengan sesuatu yang luar biasa: Malala selamat, dan pada usia 17 tahun, dia menjadi penerima Nobel Perdamaian termuda dalam sejarah."
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
"Dari perjalanan mengikuti kisah Malala ini, kita belajar banyak hal yang saling terkait. Kita melihat bagaimana sebuah keluarga bisa menanamkan nilai-nilai welas asih, kesetaraan gender, dan cinta pendidikan bahkan di tengah kemiskinan dan masyarakat yang memandang rendah perempuan. Kita juga memahami sejarah kelam di balik munculnya Taliban, mulai dari kudeta militer, peran madrasah, hingga keterlibatan kekuatan global dalam Perang Dingin yang tanpa sengaja melahirkan kelompok teroris.\n\nLebih dari itu, kita belajar bahwa ekstremisme kekerasan hampir selalu berakar pada kemiskinan, kurangnya pendidikan, dan misogini, sehingga cara membasminya bukan hanya dengan senjata, melainkan dengan pendidikan dan keadilan sosial. Dan yang paling penting, kita belajar dari teladan Malala sendiri: bahwa suara satu orang, bahkan seorang anak perempuan berusia 11 tahun, bisa mengguncang dunia jika didukung keberanian, keyakinan, dan cinta keluarga."
Sisanya untuk member
7 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



