
Inspirasi & Pengembangan Diri
Jesus and John Wayne
Bagaimana Maskulinitas Militeran Evangelis Kulit Putih Membentuk Amerika dan Melahirkan Donald Trump
Kristin Kobes du Mez
Mengapa 81% Kristen evangelis kulit putih memilih Trump? Sejarawan Kristin Kobes du Mez mengungkap akar sejarah maskulinitas militeran yang telah lama mengakar dalam budaya evangelis Amerika.
- Waktu baca
- 21 menit
- Bagian
- 10
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu sedang menyaksikan hasil pemilihan umum Amerika Serikat tahun 2016. Angka keluar, dan dunia terkejut: 81 persen kaum Kristen evangelis kulit putih memberikan suara mereka kepada Donald Trump. Banyak pengamat langsung berspekulasi bahwa mereka pasti menganggap Trump sebagai 'kejahatan yang lebih ringan' dibanding Hillary Clinton. Tapi tunggu dulu—sejarawan Kristin Du Mez datang dengan argumen yang jauh lebih tajam dan mengguncang: kaum evangelis tidak memilih Trump dengan berat hati. Mereka memilihnya justru karena Trump adalah personifikasi sempurna dari maskulinitas militeran yang selama satu abad terakhir tumbuh dan mengakar di dalam komunitas mereka sendiri.
Buku berjudul Jesus and John Wayne ini mengajak kita menelusuri perjalanan sejarah yang panjang dan mengejutkan: bagaimana citra pria Kristen yang santun dan lembut di era Victoria perlahan bermetamorfosis menjadi sosok pejuang yang tangguh, agresif, dan siap tempur. Dari dua Perang Dunia, era Vietnam, gelombang feminisme, sampai tragedi 9/11 dan kepemimpinan Obama—semuanya membentuk sebuah ideologi maskulinitas yang akhirnya bermuara pada satu nama: Donald Trump. Ini bukan sekadar buku tentang agama atau politik. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah keyakinan iman dapat berubah wujud menjadi kekuatan politik yang mengubah wajah negara adidaya dunia.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menelusuri seratus tahun sejarah ini bersama Du Mez, kita bisa melihat satu benang merah yang sangat jelas: citra pria Kristen ideal di kalangan evangelis Amerika bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan makhluk yang terus berubah mengikuti gejolak zaman. Ia bermula sebagai tuan muda santun era Victoria yang menghargai pengendalian diri, lalu berubah menjadi koboi perkasa era Teddy Roosevelt, sempat berpindah menjadi pengusaha sukses era pasca-Perang Dunia Pertama, bangkit kembali sebagai prajurit pada Perang Dunia Kedua dan Perang Dingin, melembut sesaat sebagai patriarki yang melayani di 1990-an, sebelum akhirnya kembali bersinar sebagai pejuang penuh amarah pasca-9/11.
Kita juga belajar bahwa iman dan politik tidak pernah benar-benar terpisah dalam kisah ini. Sejak pemilu Reagan tahun 1980, kaum evangelis meleburkan identitas religius mereka dengan sayap kanan politik Amerika, dibangun oleh organisasi-organisasi seperti Moral Majority, Concerned Women for America, dan Focus on the Family. Dan ketika rasa terkepung akibat 9/11 serta kepemimpinan Obama mencapai puncaknya, sosok yang paling berhasil menghidupkan impian kejantanan militeran itulah yang mereka rangkul—bukan sebagai pilihan yang menyakitkan, melainkan sebagai pemenuhan dari nilai yang mereka peluk sepenuh hati selama seratus tahun.
Sisanya untuk member
8 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



