Sampul Mythologies

Inspirasi & Pengembangan Diri

Mythologies

Membongkar Mitos Tersembunyi di Balik Budaya Populer

Roland Barthes

Roland Barthes membongkar pesan tersembunyi di balik gambar, benda, dan cerita sehari-hari yang tanpa sadar membentuk cara kita memandang dunia.

Waktu baca
11 menit
Bagian
9
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

"Coba deh, kamu sadari sejenak: dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi, berapa banyak gambar, benda, dan cerita yang menyerbu mata dan telinga kita? Ada meme di media sosial, iklan di pinggir jalan, bendera berkibar di gedung pemerintahan, sampai desain kemasan di rak minimarket. Menurut Roland Barthes, semua itu bukan sekadar hiburan atau informasi. Semuanya membawa pesan tersembunyi yang diam-diam membentuk cara kita memandang dunia. Ia menyebut pesan-pesan ini sebagai mitos."

Nah, di buku Mythologies, Barthes membongkar bagaimana institusi-institusi kuat di masyarakat, seperti pemerintah, industri periklanan, dan Hollywood, sengaja menanamkan makna tertentu pada gambar, benda, atau kalimat. Tujuannya? Membentuk dan memperkuat keyakinan budaya yang kita serap tanpa sadar. Buku ini seolah mengajak kita membuka mata, melihat manipulasi di sekitar kita, dan belajar cara menghindarinya. Menarik, kan? Yuk, kita bedah sama-sama."

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

"Setelah menyimak pembahasan buku ini, kita jadi tahu bahwa mitos bukanlah cerita legenda kuno, melainkan pesan-pesan tersembunyi yang melekat pada benda, gambar, dan frasa di sekitar kita setiap hari. Kita belajar mengenali anatomi mitos, yaitu bentuk yang konkret dan konsep yang abstrak, serta bagaimana institusi-institusi kuat seperti pemerintah, industri iklan, media, dan Hollywood merakit asosiasi-asosiasi itu agar terasa alami dan tidak perlu dipertanyakan.

Lebih dari itu, kita diajak melihat bahwa mitos pada hakikatnya adalah propaganda yang menyamarkan realitas, memperkuat ketimpangan kelas, gender, dan ras, serta menjadikan kita ikut menindas diri sendiri ketika mempercinainya tanpa kritik. Contoh-contoh dari era 1950-an yang dihadirkan Barthes, mulai dari liputan keluarga kerajaan, majalah perempuan, hingga wajah Greta Garbo, ternyata masih sangat relevan dengan iklan, film, media sosial, dan politik masa kini. Kunci utamanya adalah melatih mata kritis: berhenti sejenak, bertanya siapa yang diuntungkan, dan menolak menerima segala sesuatu hanya karena terlihat wajar."

Sisanya untuk member

7 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Inspirasi & Pengembangan Diri