
Inspirasi & Pengembangan Diri
Scarcity
Mengapa Sedikit Selalu Terasa Kurang dan Bagaimana Kelangkaan Mengubah Cara Kita Berpikir
Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir
Temuan mengejutkan tentang bagaimana rasa kekurangan waktu dan uang mengubah cara kerja otak, memperparah kekurangan itu sendiri, dan memengaruhi hampir setiap keputusan hidup kita.
- Waktu baca
- 19 menit
- Bagian
- 13
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Pernah merasa waktu tidak pernah cukup, atau menunggu tanggal tua sambil menghitung ulang sisa saldo di rekening? Rasanya seperti berlari di treadmill yang terus mempercepat, membuat kita bertanya-tanya apakah semua orang mengalami hal yang sama. Jawabannya: ya. Scarcity, atau rasa kekurangan, adalah pengalaman manusia yang paling universal, dan buku ini membedahnya sampai ke akar-akarnya. Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir, dua peneliti behavioral science, mengungkap temuan yang mengubah cara kita memandang kekurangan: ternyata kekurangan waktu dan uang secara sementara mengubah cara kerja otak kita. Di satu sisi, kekurangan membuat kita bekerja dengan kecepatan luar biasa—ingat bagaimana kamu tiba-tiba super produktif ketika deadline mulai menyeruak? Namun di sisi lain, kekurangan mencuri bandwidth mental kita, mendistorsi cara kita memproses informasi dan mengambil keputusan.
Efeknya berlipat dan saling mengunci: kekurangan memperparah kekurangan itu sendiri, sekaligus memungut mahal di area lain kehidupan kita—kesehatan, hubungan, dan pekerjaan. Kabar baiknya, buku ini tidak berhenti pada diagnosis. Kita akan menjelajahi sisi baik dan sisi gelap kekurangan, strategi konkret untuk melawan efek kognitif negatifnya, alasan mengapa kemiskinan adalah bentuk kekurangan yang unik, hingga cara merancang program sosial yang lebih manusiawi. Siapkan kopimu, karena perjalanan kali ini akan mengubah cara kamu memandang dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Dari perjalanan menelusuri buku ini, ada satu benang merah yang sangat kuat: kekurangan bukanlah soal karakter, melainkan soal kognisi. Kekurangan waktu dan uang memberi kita dividen fokus—kemampuan bekerja lebih cepat dan lebih efektif di bawah tekanan, bahkan membuat keputusan ekonomi jangka pendek menjadi lebih rasional. Namun pada saat yang sama, kekurangan memungut pajak berat pada bandwidth mental: kita menelantarkan hal-hal yang disayangi, performa kognitif menurun, dan kebiasaan meminjam menciptakan lingkaran setan yang memperdalam kekurangan itu sendiri.
Kita juga belajar bahwa kemiskinan adalah bentuk kekurangan yang paling unik dan paling berat—ia merambah kesehatan, pengasuhan anak, daya ingat, produktivitas, hingga tidur, dan solusinya bukan sekadar ceramah edukasi, melainkan merancang ulang lingkungan serta program sosial agar minim beban kognitif. Di level personal, kita bisa melawan psikologi kekurangan dengan pengingat, pengaturan default, meminimalkan godaan, mengelola periode bandwidth tinggi, dan membangun slack. Intinya: karena otak kita akan selalu terpengaruh oleh scarcity secara otomatis, biarkan sistem yang kita bangun di sekitar kita yang menjaga kita tetap di jalur.
Sisanya untuk member
11 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



