
Inspirasi & Pengembangan Diri
The Autobiography of Malcolm X
Perjalanan Hidup Sang Pejuang Keadilan Rasial
Malcolm X dan Alex Haley
Dari jalanan dan penjara hingga menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam perjuangan hak sipil di Amerika Serikat.
- Waktu baca
- 15 menit
- Bagian
- 11
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu lahir di dunia yang sejak hari pertama sudah menolak keberadaanmu. Rumahmu dibakar, ayahmu meninggal dalam keadaan misterius, ibumu dipisahkan dari anak-anaknya, dan gurumu berkata bahwa mimpi besarmu tidak akan pernah mungkin karena warna kulitmu. Nah, dari titik terendah itulah Malcolm X bangkit—dari jalanan, penjara, lalu menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam perjuangan hak sipil di Amerika Serikat.
Diterbitkan pada tahun 1965, The Autobiography of Malcolm X menceritakan perjalanan hidup yang penuh liku: bagaimana seorang anak kecil dari Nebraska berubah menjadi penjahat kelas kakap, lalu menemukan panggilan hidupnya di balik jeruji besi, dan akhirnya tumbuh menjadi pemimpin yang pandangan-pandangannya terus berevolusi—kadang radikal, kadang mengejutkan banyak orang. Buku ini bukan sekadar kisah hidup. Ini adalah jendela untuk memahami mengapa seseorang percaya pada apa yang ia percayai, dan mengapa ia bersedia mati demi keadilan rasial.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Dari perjalanan hidup Malcolm X, kita belajar bahwa lingkungan dan sistem yang menindas dapat membentuk nasib seseorang sejak masa kecil—kemiskinan, diskriminasi, dan kekerasan rasial yang ia alami sejak kecil pada akhirnya menggiringnya ke dunia kejahatan. Namun kita juga menyaksikan kekuatan transformasi: dari sel penjara, Malcolm menemukan agama, pendidikan mandiri, dan tujuan hidup yang mengangkatnya menjadi salah satu pembicara paling berpengaruh pada zamannya.
Kisahnya juga mengajarkan bahwa keyakinan seseorang dapat berevolusi seiring pengalaman—perjalanan haji ke Mekah membukakan mata Malcolm bahwa kesetaraan rasial itu nyata, dan bahwa tidak semua orang kulit putih berhati iblis. Terakhir, kita belajar bahwa perjuangan keadilan sering menuntut pengorbanan tertinggi. Malcolm tahu bahwa aktivismenya akan berujung pada kematian, tetapi ia memilih tetap berjuang demi generasi yang akan datang.
Sisanya untuk member
9 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



