
Inspirasi & Pengembangan Diri
The Bhagavad Gita
Percakapan Abadi Arjuna dan Krishna tentang Dharma, Karma, dan Pembebasan
Eknath Easwaran
Di tengah medan perang Kurukshetra, Arjuna dilanda keraguan dan ketakutan. Melalui dialog dengan Krishna, ia menemukan peta spiritual tentang dharma, karma, dan jalan menuju pembebasan. Eknath Easwaran menghadirkan terjemahan dan tafsir yang hangat, membuat Bhagavad Gita berbicara langsung ke pergulatan hidup modern.
- Waktu baca
- 14 menit
- Bagian
- 12
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu sedang berdiri di tengah medan perang Kurukshetra, bukan hanya pertempuran fisik, tetapi juga pertempuran batin yang sangat dalam. Di satu sisi ada Pangeran Arjuna yang hatinya remuk karena harus berhadapan dengan keluarga, sahabat, dan gurunya sendiri. Di sisi lain ada Krishna, sahabat sekaligus kusir kereta yang diam-diam menyimpan rahasia besar sebagai penjelmaan Dewa Vishnu. Dari percakapan mereka inilah lahir Bhagavad Gita, sebuah nyanyian ilahi yang membentangkan peta spiritual tentang dharma, karma, realitas, ilusi, dan jalan menuju pembebasan dari siklus kelahiran kembali.
Buku ini bukan sekadar teks kuno Hindu yang indah; ia adalah percakapan yang terasa hidup dan sangat manusiawi. Eknath Easwaran menghadirkan terjemahan serta tafsir yang membuat kita, bahkan yang tidak akrab dengan mitologi Hindu, bisa menangkap pesan-pesannya: apa yang nyata, apa yang hanya sementara, dan bagaimana menjalani hidup dengan tindakan yang tulus tanpa dibebani hasil. Ini undangan untuk duduk, mendengar, dan membiarkan dialog Arjuna dan Krishna mengaduk cara pandang kita tentang hidup, tugas, dan kecemasan.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Seluruh ajaran Bhagavad Gita pada dasarnya mengajak kita memilah ulang apa yang kita anggap nyata. Krishna menunjukkan bahwa tubuh, pikiran, perasaan, dan hasil tindakan bersifat sementara; yang kekal hanyalah jiwa sejati dan kehadiran ilahi di dalam segala sesuatu. Dengan memahami ini, kita bisa mengurangi kecemasan, kemarahan, dan kesedihan yang muncul karena terlalu melekat pada hal-hal yang pasti berubah. Pelajaran tentang tiga guna—sattva, rajas, dan tamas—membantu kita melihat kualitas di balik cara kita berpikir, bertindak, beribadah, bahkan merasakan kebahagiaan.
Puncaknya adalah praktik tindakan tanpa pamrih dan cinta kepada Tuhan. Kita tetap berkarya, menjalankan peran, dan memenuhi tanggung jawab, tetapi tidak menjadikan hasil serta ego sebagai pusat hidup. Cinta menjadi jalan yang lebih mudah dan pasti daripada sekadar pengetahuan, karena cinta melunakkan keinginan untuk menguasai dan memberi ruang bagi kepasrahan yang jernih. Pada akhirnya, tidak ada usaha spiritual yang sia-sia; setiap langkah kecil menuju kesadaran sejati akan membawa kita semakin dekat pada cahaya murni yang melampaui kelahiran dan kematian.
Sisanya untuk member
10 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



