
Inspirasi & Pengembangan Diri
The Courage to Be Happy
Menemukan Kebahagiaan Sejati dengan Psikologi Adler
Ichiro Kishimi, Fumitake Koga
Sekuel dari The Courage to Be Disliked yang menawarkan dialog mendalam tentang cara menemukan kebahagiaan sejati, mendidik anak menjadi mandiri, dan menerapkan prinsip psikologi Adler dalam kehidupan sehari-hari.
- Waktu baca
- 14 menit
- Bagian
- 10
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
"Bayangkan kamu sedang duduk di sebuah kantor tua di Kyoto, berhadapan dengan seorang filsuf bijak, sambil membantah habis-habisan setiap gagasan yang dia utarakan. Itulah panggung yang disiapkan oleh buku The Courage to Be Happy, sekuel dari buku legendaris The Courage to Be Disliked. Kali ini, pembahasannya jauh lebih dalam dan lebih praktis: bagaimana caranya menemukan kebahagiaan sungguhan dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi Alfred Adler, psikoterapis jenius dari awal abad ke-20 yang idenya tetap terasa segar hingga hari ini. Menariknya lagi, buku ini tidak hanya bicara soal dirimu sendiri. Ia juga membahas bagaimana kita seharusnya mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi manusia mandiri yang merasa menjadi bagian dari komunitasnya. Psst... dan siap-siap, karena beberapa prinsipnya akan terasa seperti tamparan yang justru membuatmu terjaga.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
"Dari perjalanan panjang buku ini, ada benang merah yang bisa kita genggam erat. Kishimi dan Koga mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati berdiri di atas dua fondasi: kemandirian dan rasa komunitas. Kemandirian berarti berani memisahkan urusan, yaitu fokus pada hal-hal yang benar-benar dalam kendali kita dan berani membiarkan masa lalu kehilangan kuasanya atas hidup kita saat ini. Sementara rasa komunitas berarti menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial, bahwa kebahagiaan kita tumbuh dari merasa berguna bagi orang lain, memberikan rasa hormat tanpa syarat, dan merawat tiga hubungan fundamental: hubungan kerja, persahabatan, dan cinta.
Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah tentang cara kita mendidik anak. Intervensi berlebihan, hukuman, dan hadiah ternyata sama-sama merusak; semuanya mengajarkan anak untuk bergantung pada otoritas eksternal alih-alih tumbuh menjadi manusia mandiri yang peduli pada komunitasnya. Sebagai gantinya, berikan anak rasa hormat, bimbingan, dan ruang untuk mengambil keputusan sendiri, termasuk ruang untuk gagal dan belajar dari konsekuensi alaminya. Intinya, baik bagi kita maupun anak-anak, kunci kebahagiaan adalah keberanian: keberanian untuk tidak disukai, keberanian untuk memilih jalan sendiri, dan keberanian untuk memberi alih-alih terus menuntut diberi."
Sisanya untuk member
8 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



