
Inspirasi & Pengembangan Diri
The Happiness Hypothesis
Menyingkap Akar Kebahagiaan dari Filsafat Kuno hingga Psikologi Modern
Jonathan Haidt
Jelajahi pertarungan antara logika dan emosi dalam diri manusia, serta temukan keseimbangan antara keinginan Timur dan obsesi Barat untuk meraih kebahagiaan sejati.
- Waktu baca
- 14 menit
- Bagian
- 12
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Pernahkah kamu merasa seolah-olah otakmu sedang berperang melawan dirinya sendiri? Di satu sisi ada logika yang berusaha menahan diri, namun di sisi lain emosi mengambil alih kendali sepenuhnya. Buku ini mengajak kita membedah sisi manusia yang terbelah itu, memadukan kearifan kuno dari para filsuf besar dengan temuan mutakhir psikologi positif. Kita akan menjelajahi mengapa kepuasan hidup kita sebenarnya sangat bergantung pada bagaimana filter mental kita menafsirkan setiap peristiwa yang terjadi.
Inti dari semua pembahasan ini adalah sebuah keseimbangan. Kita tidak bisa sekadar menihilkan keinginan seperti ajakan Timur, juga tidak bisa mengejar semua target secara obsesif seperti pemahaman Barat. Kuncinya adalah menggunakan akal budi untuk mengarahkan pikiran menjauh dari keinginan yang hanya memberi kebahagiaan semu, sekaligus menyerah pada keinginan yang membawa kepuasan abadi.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menjelajahi seluruh gagasan dalam buku ini, kita belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan sebuah keseimbangan yang harus kita ciptakan sendiri. Kita memahami bahwa emosi kita memiliki kekuatan yang lebih besar daripada nalar, namun alih-alih memaksanya tunduk, kita bisa melatih dan mengarahkannya melalui meditasi, terapi kognitif, dan perubahan stimulus lingkungan. Kita juga menyadari betapa pentingnya membuang ilusi diri dan bias negatif untuk membangun hubungan yang lebih tulus dengan sesama.
Lebih dari itu, kita diajak untuk mengejar hal-hal yang benar, seperti otonomi hidup, pengalaman bermakna, dan pekerjaan yang membawa kita pada kondisi flow. Kita belajar bahwa cinta dan kemelekatan bukanlah kelemahan, melainkan fondasi psikologis yang sangat kita butuhkan sejak kecil hingga dewasa. Bahkan adversitas pun bisa menjadi alat untuk menulis ulang narasi hidup menjadi sesuatu yang lebih kuat dan penuh empati. Pada akhirnya, dengan mengkultivasikan keutamaan dan menemukan tujuan yang lebih besar dari diri kita, kita bisa menyelaraskan sang penunggang dan gajah untuk hidup yang benar-benar memuaskan.
Sisanya untuk member
10 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



