
Inspirasi & Pengembangan Diri
You Only Die Once
Menemukan Semangat Hidup dengan Merenungkan Kematian
Jodi Wellman
Jodi Wellman mengajak kita merangkul memento mori untuk hidup lebih bermakna, disengaja, dan penuh vitalitas. Temukan rahasia mengapa merenungkan kematian justru membuat kita lebih hidup.
- Waktu baca
- 14 menit
- Bagian
- 10
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kalau hari ini kamu berhenti sejenak dan jujur pada diri sendiri: sudahkah kamu memikirkan kematianmu sendiri? Terdengar muram, ya? Tapi justru di situlah letak rahasianya. Dalam buku You Only Die Once, Jodi Wellman mengajak kita merangkul sebuah prinsip kuno bernama memento mori, yaitu kesadaran yang disengaja bahwa kita semua pasti akan mati. Menurutnya, justru dengan rutin merenungkan kematian itulah kita menemukan motivasi terkuat untuk hidup lebih disengaja, lebih bermakna, dan lebih hidup.
Wellman meyakini bahwa hidup yang baik berdiri di atas dua pilar: vitalitas, yaitu rasa benar-benar hidup dan berenergi, serta makna, yaitu rasa having purpose dalam setiap hal yang kita lakukan. Buku ini akan memandu kita memahami mengapa merenungkan kematian justru membuat kita lebih hidup, cara menilai kualitas hidup yang sedang kita jalani saat ini, hingga langkah-langkah konkret untuk segera memperbaikinya, dilengkapi wawasan dari para ahli psikologi positif seperti Martin Seligman dan Viktor Frankl.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Dari perjalanan kita menelaah You Only Die Once, ada benang merah yang sangat kuat: kematian, yang selama ini kita hindari, ternyata adalah guru terbaik untuk mengajarkan kita cara hidup. Wellman menunjukkan bahwa menghindari pikiran tentang kematian hanya membuat kita berjalan dalam mode otomatis, sementara merangkulnya lewat praktik memento mori membangunkan kita dari tidur panjang itu dan mendorong kita hidup lebih disengaja.
Kita juga belajar bahwa hidup yang baik berdiri di atas dua pilar yang harus seimbang: vitalitas yang membuat kita merasa hidup dan berenergi, serta makna yang memberi arah dan tujuan. Melalui Kuadran Kualitas Hidup, kita bisa memetakan posisi kita, apakah stagnan, bermakna tapi hambar, cerah tapi dangkal, atau benar-benar hidup. Dari sana, kita mempelajari strategi konkret: memecah kebiasaan yang meredupkan vitalitas, menambah kebaruan dan spontanitas, bergaul dengan orang yang tepat, memperdalam makna lewat kontribusi, komunitas, warisan, dan bahkan memeluk penderitaan, serta mengelola penyesalan sebelum ia menumpuk di ujung hidup. Dan yang terpenting: mulailah kecil, mulailah sekarang, karena waktu tidak menunggu kita siap.
Sisanya untuk member
8 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



