
Sains & Teknologi
Against Empathy
Mengapa Empati Bisa Menyesatkan dan Welas Asih Rasional Lebih Dibutuhkan
Paul Bloom
Paul Bloom membongkar asumsi bahwa empati selalu membawa kebaikan. Buku ini menantang kita untuk berpikir jernih dan menumbuhkan welas asih yang rasional demi keputusan moral yang lebih adil.
- Waktu baca
- 8 menit
- Bagian
- 7
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu sedang duduk santai, lalu seseorang bertanya: kalau kita semua berempati lebih banyak, dunia pasti jadi tempat yang lebih baik, kan? Nah, justru di titik itulah Paul Bloom datang dan mengguncang asumsi kita semua. Dalam Against Empathy, psikolog dari Yale ini mengajukan gagasan yang terdengar nyaris tabu: empati—perasaan ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain—justru bisa membuat kita bertindak tidak adil, irasional, bahkan kejam. Kedengarannya mengejutkan? Ya, memang itu tujuannya.
Bloom tidak sedang mengajak kita menjadi manusia dingin yang tidak peduli. Justru sebaliknya. Ia mengajak kita berhenti membiarkan emosi mengendalikan kemudi keputusan moral kita, dan mulai menumbuhkan apa yang ia sebut welas asih yang rasional—cinta kasih yang tenang, terukur, dan berpikir jernih tentang akibat jangka panjang. Buku ini adalah undangan untuk mempertanyakan hal yang selama ini kita anggap sudah final: bahwa empati selalu membawa kita ke jalan yang benar.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menyelami Against Empathy, kita dibekali pemahaman yang jauh lebih bernuansa tentang emosi yang selama ini kita anggap sebagai kebajikan tertinggi. Kita belajar membedakan empati emosional yang membuat kita ikut terbenam dalam perasaan orang lain, dari empati kognitif yang membantu kita memahami tanpa hanyut. Kita juga diajari mengenali sisi gelap empati: bagaimana ia memperkuat prasangka, membutakan kita pada penderitaan massal demi satu cerita yang memikat, menguras tenaga penolong, dan bahkan melatarbelakangi kekerasan yang dilakukan atas nama bela rasa kasihan.
Lebih penting lagi, buku ini memberi kita alternatif yang konstruktif, bukan sekadar kritik. Welas asih yang rasional mengajak kita menggabungkan kepedulian tulus dengan pemikiran dingin tentang akibat setiap tindakan. Melalui empat strategi praktis—mengasah pengendalian diri, memprioritaskan keputusan yang berdampak moral, mempertimbangkan konsekuensi, dan menempatkan empati pada posisi yang tepat—kita diajak menjadi orang yang tidak hanya baik hati, tetapi juga cerdas dalam berbuat baik. Pada akhirnya, pelajaran terbesarnya adalah kebaikan yang sesungguhnya membutuhkan lebih dari sekadar perasaan; ia membutuhkan perasaan yang dipandu oleh nalar.
Sisanya untuk member
5 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



