
Sains & Teknologi
Calling Bullshit
Panduan Mendeteksi dan Membongkar Omong Kosong di Era Digital
Carl T. Bergstrom dan Jevin D. West
Di dunia yang banjir informasi, kemampuan membedakan fakta dan omong kosong adalah keterampilan bertahan hidup. Buku ini mengajarkan cara mendeteksi, membongkar, dan menantang balik disinformasi yang dibungkus rapi dengan data dan retorika.
- Waktu baca
- 13 menit
- Bagian
- 9
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu sedang scroll media sosial, lalu tiba-tiba tersandung sebuah berita yang judulnya seolah-olah sudah pasti benar. Angka-angkanya rapi, grafiknya meyakinkan, dan bahasanya sangat meyakinkan. Tapi ada yang janggal, ada yang terlalu mulus untuk dipercaya. Nah, inilah dunia tempat kita hidup sekarang: dunia yang dipenuhi oleh *bullshit* — omong kosong yang dibungkus rapi dengan data dan retorika agar terlihat ilmiah.
Dua profesor dari University of Washington, Carl T. Bergstrom dan Jevin D. West, menulis buku ini pada tahun 2020 dengan satu pesan yang sangat menyegarkan: kita tidak harus tinggal diam menjadi korban. Setiap orang — termasuk kamu yang tidak punya latar belakang statistik sekalipun — bisa belajar mendeteksi, membongkar, dan menantang balik omong kosong yang beredar di internet, media massa, bahkan di dunia akademik. Buku ini adalah panduan bertahan hidup di era banjir informasi.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Dari buku ini, kita belajar bahwa bullshit adalah penggunaan bukti menyesatkan tanpa komitmen pada kebenaran, dan bahwa ia berkembang subur karena insentif ekonomi internet dan media yang mengutamakan klik dan emosi di atas fakta. Kita juga memahami bahwa data — yang sering kita anggap netral — bisa berbohong lewat bias seleksi, penafsiran yang licik, persentase tanpa konteks, dan grafik yang tidak proporsional. Bahkan sains pun bisa terkontaminasi lewat salah paham soal p-value dan bias publikasi, sementara big data bisa mewarisi diskriminasi dari data latihnya yang buruk.
Yang lebih penting lagi, buku ini memberi kita perangkat praktis: evaluasi sumber informasi dan motivasinya, ragukan klaim yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, dan sadari bias konfirmasi dalam diri sendiri. Setelah bullshit teridentifikasi, kita bisa menantangnya dengan *reductio ad absurdum*, counterexample, atau analogi yang membumi. Intinya, berpikir kritis bukanlah bakat bawaan — ia adalah keterampilan yang bisa dilatih setiap hari.
Sisanya untuk member
7 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



