
Karier & Bisnis
Confidence Man
Potret Mendalam Donald Trump dan Bangunan Mitos Kesuksesan di Baliknya
Maggie Haberman
Melalui akses eksklusif dan liputan puluhan tahun, Maggie Haberman membedah bagaimana Donald Trump membangun mitos kesuksesan, jatuh bangkit, dan mengubah lanskap politik Amerika.
- Waktu baca
- 17 menit
- Bagian
- 11
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu sedang duduk di ruang redaksi New York Times, dan di hadapanmu ada tumpukan catatan puluhan tahun tentang satu sosok yang mungkin paling membelah opini publik Amerika dalam sejarah modern. Nah, itulah yang coba dibedah Maggie Haberman dalam Confidence Man. Buku ini bukan sekadar biografi Donald Trump, melainkan penelusuran mendalam tentang bagaimana seorang anak pengembang properti dari Queens bisa membangun mitos kesuksesan, jatuh terlilit utang, bangkit lewat televisi, dan akhirnya merebut kursi kekuasaan tertinggi di dunia.
Yang menarik, Haberman tidak hanya menyoroti keputusan-keputusan politik Trump, tetapi juga orang-orang, pengalaman, dan lingkungan yang membentuk kepribadiannya—dari kerasnya dinamika keluarga Trump, pelajaran bisnis transaksional dari sang ayah, hingga obsesinya pada ketenaran dan dominasi. Kita akan diajak menyusuri karier propertinya di New York, kariernya sebagai bintang reality TV, kemenangan mengejutkan pada pemilu 2016, hingga upayanya menggulingkan hasil kekalahan pemilu 2020. Ini adalah kisah tentang kekuatan selebriti, dan sekaligus peringatan tentang kerapuhan demokrasi.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Dari perjalanan panjang ini, ada begitu banyak yang bisa kita petik. Kita belajar bahwa kepribadian dan keputusan seorang pemimpin tidak lahir dari kekosongan—mereka adalah produk dari keluarga, lingkungan, dan pengalaman formatif yang membentuk cara mereka memandang dunia. Kita juga memahami kekuatan citra dan ketenaran di era media: bagaimana seorang pengembang properti bisa membangun mitos kesuksesan, jatuh terlilit utang, lalu bangkit lewat televisi, dan akhirnya menggunakan ketenaran itu sebagai batu loncatan menuju kekuasaan politik tertinggi.
Kita juga diajak untuk lebih kritis dalam mengonsumsi media—memahami bagaimana perhatian media bisa menjadi mata uang kekuasaan, dan bagaimana tontonan sensasional bisa membuat kita lalai terhadap bahaya bagi demokrasi. Terakhir, dan mungkin yang paling penting, buku ini menjadi pengingat bahwa norma-norma demokrasi yang tidak tertulis—yang selama ini sering kita anggap remeh—adalah fondasi yang rapuh namun vital, yang sekali dilanggar bisa mengubah wajah sebuah bangsa.
Sisanya untuk member
9 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



