Sampul Imagined Communities

Sains & Teknologi

Imagined Communities

Mengurai Asal-Usul Bangsa sebagai Komunitas Terbayang

Benedict Anderson

Benarkah bangsa itu nyata? Benedict Anderson membongkar rahasia di balik rasa kebangsaan—komunitas besar yang tak pernah saling mengenal, namun terasa begitu nyata di kepala kita. Sebuah karya legendaris yang mengubah cara dunia memahami nasionalisme.

Waktu baca
26 menit
Bagian
14
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

Pernahkah kamu merasa berdebar bersama jutaan orang asing yang tidak akan pernah kamu temui seumur hidup? Ketika lagu kebangsaan menggema di stadion atau tim nasional berlaga, tiba-tiba muncul rasa memiliki yang aneh terhadap puluhan juta orang yang bahkan tidak tahu namamu. Inilah teka-teki besar yang diurai Benedict Anderson dalam karya legendarisnya: bangsa, ternyata, tidak pernah benar-benar ada dalam kenyataan empiris. Ia adalah inovasi politik murni—rekayasa identitas bersama yang berhasil merekatkan orang-orang asing dari komunitas yang berbeda, biasanya atas dasar kesamaan bahasa, sejarah, budaya, agama, atau etnisitas.

Anderson menyebutnya komunitas yang diimaginasikan karena hampir seluruh anggota sebuah bangsa tidak akan pernah saling mengenal, bertemu, apalagi mendengar kabar satu sama lain. Namun di kepala masing-masing, hidup keyakinan bahwa mereka adalah satu kesatuan. Dan dalam panduan ini, kita tidak hanya menyelami teori Anderson—kita juga akan mengujinya dengan perspektif psikologi dan antropologi, ditambah konteks sejarah ekstra yang membuat diskusinya semakin hidup dan relevan dengan dunia kita hari ini.

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

Sepanjang perjalanan ini, kita membedah nasionalisme dari akarnya hingga buahnya. Kita belajar bahwa bangsa bukanlah kodrat alam, melainkan komunitas imajiner—identitas yang dikonstruksi secara sosial dan politik untuk merekatkan jutaan orang asing yang tidak akan pernah saling bertemu. Kita menelusuri dunia pranasionalis yang diperintah dinasti kosmopolitan tanpa batas wilayah dan bahasa resmi, lalu menyaksikan bagaimana mesin cetak dan ledakan literasi berbahasa rakyat melahirkan kesadaran nasional, menyetandarkan bahasa-bahasa, dan menggulingkan dominasi Latin.

Kita juga melihat bagaimana nasionalisme Eropa modern menciptakan mitos masa lalu yang gemilang, memaksa para raja tua bertransformasi menjadi bapak bangsa dan menekan minoritas demi homogenitas, sebelum akhirnya senjata yang sama dipinjam bangsa-bangsa terjajah untuk merebut kemerdekaan—lahir dari ruang kelas sekolah kolonial dan garis batas peta penjajah. Terakhir, kita belajar membedakan nasionalisme yang mengarahkan konflik ke luar dari rasisme yang berobsesi pada kemurnian internal, sembari terus menguji batas tipis di antara keduanya. Pada akhirnya, kita diajak menyadari bahwa identitas nasional adalah ciptaan manusia—dan karena diciptakan, ia selalu bisa dipikirkan ulang, diperdebatkan, dan dibayangkan kembali.

Sisanya untuk member

12 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Sains & Teknologi