Sampul Jab, Jab, Jab, Right Hook

Karier & Bisnis

Jab, Jab, Jab, Right Hook

Strategi Media Sosial: Beri Dulu, Baru Minta

Gary Vaynerchuk

Pelajari seni memberi nilai tanpa henti sebelum meminta penjualan—strategi jab dan right hook ala Gary Vaynerchuk untuk memenangkan hati pelanggan di era media sosial.

Waktu baca
25 menit
Bagian
13
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

Bayangkan kamu sedang berdiri di tengah ring tinju. Ribuan mata menantikan setiap gerakanmu, dan kemenangan hanya datang kepada mereka yang tahu kapan harus memberi dan kapan harus menagih. Begitulah Gary Vaynerchuk memandang dunia pemasaran modern. Dalam buku "Jab, Jab, Jab, Right Hook", ia meminjam filosofi olahraga tinju untuk membedah strategi media sosial yang tampak sederhana namun sangat dalam: "jab" adalah semua konten yang membangun hubungan dengan pelanggan—hiburan, informasi, dan tawa yang kamu berikan tanpa pamrih—sedangkan "right hook" adalah serangan penjualan yang menuntut konversi. Rahasianya satu: lempar jauh lebih banyak jab daripada hook, karena orang hanya membeli dari merek yang mereka cintai dan percaya.

Vaynerchuk juga mengajak kita membedah lima platform besar—Facebook, Twitter, Pinterest, Instagram, dan Tumblr—yang masing-masing memiliki bahasa, budaya, dan aturan main tersendiri. Ia menunjukkan mengapa media sosial berbeda dari segala bentuk pemasaran sebelumnya, dan bagaimana usaha kecil bisa bersaing sejajar dengan korporasi raksasa hanya dengan satu senjata: ketulusan dan usaha yang tidak kenal lelah.

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

Kalau kita menarik benang merah dari seluruh buku ini, pesannya sesungguhnya sangat manusiawi: berhentilah menjual setiap saat, dan mulailah memberi. Kerangka jab dan right hook mengajarkan bahwa hubungan harus dibangun jauh sebelum transaksi diminta—lempar banyak nilai, tawa, dan perhatian lebih dulu, sehingga saat hook akhirnya keluar, orang merasa nyaris berkewajiban membalas kebaikan yang telah mereka terima. Kamu juga belajar bahwa setiap platform adalah negeri dengan bahasa sendiri: konten native yang menyatu dengan budaya lokal platform-lah yang disambut dengan tangan terbuka, sementara konten yang menyela dan memaksakan diri hanya mengundang kesal dan kebencian.

Di samping itu, buku ini menegaskan bahwa arena media sosial adalah medan yang paling adil: usaha kecil bisa sejajar dengan korporasi raksasa bukan lewat anggaran, melainkan lewat usaha, ketulusan, dan kesediaan peduli pada pelanggan—sesuatu yang begitu langka sehingga kehadirannya sendiri sudah menjadi pembeda. Dan karena platform serta algoritma terus berevolusi tanpa henti, satu-satunya strategi jangka panjang adalah menjadi pembelajar seumur hidup yang berani maju lebih dulu ke arena-arena baru, persis seperti Vaynerchuk yang memburu YouTube ketika orang lain masih menonton video Mentos dan Coke.

Sisanya untuk member

11 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Karier & Bisnis