
Karier & Bisnis
Servant Leadership
Filsafat Kepemimpinan yang Melayani: Mengubah Institusi dari Dalam
Robert K. Greenleaf
Sebuah gagasan radikal dari Robert K. Greenleaf: pemimpin sejati adalah mereka yang melayani, bukan yang memerintah. Temukan bagaimana servant leadership dapat menyembuhkan institusi modern yang gagal memenuhi kebutuhan orang-orangnya.
- Waktu baca
- 13 menit
- Bagian
- 9
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan sebuah dunia di mana para pemimpin tidak duduk di menara gading memberi perintah, melainkan turun ke bawah, melayani kebutuhan orang-orang yang mereka pimpin. Itulah gagasan radikal yang ditawarkan Robert K. Greenleaf dalam buku klasik yang terbit tahun 1977 ini. Greenleaf melihat bahwa institusi-institusi modern, baik itu gereja, universitas, perusahaan, hingga yayasan, justru gagal memenuhi kebutuhan orang-orang yang seharusnya mereka layani. Jawabannya? Sebuah filsafat kepemimpinan yang ia beri nama servant leadership, atau kepemimpinan pelayanan.
Menariknya, Greenleaf bukan sekadar teoretisi yang duduk di ruang kerja nyaman. Ia adalah mantan eksekutif AT&T yang menghabiskan puluhan tahun mengamati langsung bagaimana institusi bekerja, lalu runtuh perlahan. Dari pengamatan itulah ia merumuskan sebuah ide yang sampai hari ini masih terus menginspirasi gerakan kepemimpinan di seluruh dunia. Buku ini akan mengajak kita membedah apa itu servant leadership, kualitas apa saja yang dimiliki para pemimpin pelayan, dan bagaimana filsafat ini bisa menjadi obat bagi berbagai persoalan institusi modern.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menelusuri keseluruhan gagasan Greenleaf, kita bisa menarik benang merah yang kuat. Servant leadership adalah filsafat tiga pilar, yaitu visi kebaikan bersama, tanggung jawab sosial, dan inspirasi, yang bertujuan membuat dunia lebih baik. Siapa pun bisa menjadi pemimpin pelayan, bahkan orang-orang termarginalisasi justru berpotensi besar, asalkan memiliki lima kualitas kunci: tanggung jawab pada diri sendiri, intuisi, ketekunan, komunikasi yang baik, dan jiwa yang memelihara.
Kita juga belajar bahwa institusi ideal adalah institusi yang memenuhi tanggung jawab sosialnya, dan transformasinya berada di tangan para trustee yang bertindak sebagai pemimpin pelayan, lengkap dengan lima langkah praktis membangunnya, mulai dari memimpikan keunggulan hingga membagi kekuasaan secara setara. Terakhir, setiap jenis institusi punya resep khusus: gereja harus memperbaiki hidup jemaat secara nyata, universitas harus mencetak pemimpin pelayan, yayasan harus menyalurkan dana secara jujur dan inovatif, dan bisnis harus menyediakan pekerjaan serta layanan yang memuaskan. Pada akhirnya, tanggung jawab setiap individu adalah melayani, melihat potensi kebesaran pada orang lain, dan membantunya mewujudkannya.
Sisanya untuk member
7 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



