Sampul The Language Instinct

Sains & Teknologi

The Language Instinct

Mengungkap Bahasa sebagai Insting Biologis Bawaan Manusia

Steven Pinker

Psikolog eksperimental Steven Pinker membongkar mitos bahwa bahasa hanyalah produk budaya. Ia menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa adalah insting biologis hasil evolusi, seperti kemampuan bunglon menyamar—sebuah superpower yang membuat manusia unik.

Waktu baca
14 menit
Bagian
9
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

Bayangkan kamu bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh makhluk mana pun di planet ini: merangkai bunyi-bunyi sederhana menjadi kalimat yang tak terbatas jumlahnya, menyampaikan gagasan abstrak, bercanda, berbohong, bahkan membujuk seseorang hanya dengan menggunakan udara yang keluar dari paru-parumu. Nah, dalam buku The Language Instinct, psikolog eksperimental Steven Pinker mengajukan gagasan yang mengguncang: kemampuan berbahasa kita bukan sekadar produk budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahasa, menurutnya, adalah insting biologis bawaan—semacam superpower hasil evolusi, persis seperti kemampuan bunglon menyamar atau elang yang terbang dengan kecepatan tinggi.

Pinker juga membawa pesan yang menyegarkan bagi kita semua yang sering menggerutu melihat generasi muda merusak bahasa dengan kata-kata slang baru. Menurutnya, jika sebuah istilah baru membantu manusia menyampaikan ide dengan lebih presisi, maka istilah itu justru memperkaya bahasa, bukan merusaknya. Sepanjang perjalanan buku ini, kita akan menjelajahi bagaimana otak memproses ucapan, mengapa anak-anak adalah jenius linguistik yang luar biasa, dan alasan mengapa kita tidak perlu takut membuang konvensi tata bahasa yang sebenarnya sembarang saja.

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

Setelah menyusuri buku ini, kita membawa pulang pemahaman baru tentang sesuatu yang selama ini kita lakukan setiap hari tanpa berpikir: berbicara. Kita belajar bahwa bahasa adalah sistem kombinasi tak terbatas yang mengubah jumlah bunyi terbatas menjadi kalimat tanpa batas melalui fonem, morfem, kata, frasa, dan sintaksis—dan bahwa untuk sekadar mengucapkan satu kata, enam bagian tubuh kita harus berkoordinasi sempurna sementara otak pendengar berpacu memilah, mengelompokkan, dan menafsirkan makna berdasarkan konteks, subteks, dan nuansa budaya.

Lebih jauh lagi, kita memahami argumen Pinker bahwa bahasa adalah insting biologis: hasil seleksi alam yang memberi nenek moyang kita keunggulan bertahan hidup, terprogram dalam struktur otak tertentu, dan ditandai oleh cetak biru tata bahasa universal yang sama di semua bahasa manusia. Dari kerangka ini, misteri-misteri lain menjadi masuk akal—mengapa anak-anak menguasai bahasa dengan kecepatan menakjubkan dalam periode kritis mereka, mengapa mereka bahkan mampu menciptakan bahasa kreol dari pidgin yang tidak bertata bahasa, dan mengapa pendekatan fungsional terhadap bahasa jauh lebih masuk akal daripada dogma preskriptif yang kaku. Kita juga belajar bahwa sains terus bergerak: dari perdebatan tentang Tata Bahasa Universal dan gen FOXP2 hingga kemajuan AI yang melampaui dugaan Pinker, semua pengingat bahwa pengetahuan kita tentang bahasa masih terus berkembang.

Sisanya untuk member

7 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Sains & Teknologi