Sampul The Man Who Mistook His Wife for a Hat

Kesehatan & Pikiran

The Man Who Mistook His Wife for a Hat

Kisah Nyata Pasien Neurologi yang Mengungkap Misteri Otak dan Kemanusiaan

Oliver Sacks

Kumpulan kisah pasien neurologi yang memukau, menyingkap bagaimana kerusakan otak justru mengungkap makna identitas, memori, dan kemanusiaan kita.

Waktu baca
16 menit
Bagian
10
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

Bayangkan kamu sedang duduk di ruang praktik seorang dokter saraf, lalu masuklah seorang profesor musik yang sesekali mencoba mengambil kepala istrinya karena mengira itu topi. Kedengarannya seperti leluhur, tetapi ini kisah nyata. Inilah dunia yang dijelajahi oleh Oliver Sacks dalam The Man Who Mistook His Wife for a Hat, sebuah kumpulan kisah pasien neurologi yang akan membuat kamu mempertanyakan kembali apa artinya menjadi manusia. Melalui otak yang rusak, Sacks justru menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis paling dalam yang pernah diajukan manusia. Apa itu identitas? Apa itu memori? Apa yang tersisa dari diri kita ketika ingatan hilang dan persepsi berubah? Buku ini menggabungkan sains yang empiris dengan kehangatan kemanusiaan, menciptakan narasi yang sulit kamu temukan di buku kedokteran mana pun. Setiap cerita adalah perjuangan, ketahanan, dan dalam beberapa kasus, harapan yang luar biasa.

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

Dari seluruh perjalanan kita melalui kisah-kisah luar biasa ini, satu benang merah menghubungkan semuanya: otak manusia adalah organ yang luar biasa adaptif dan sumber dari kemanusiaan kita sendiri. Ketika satu area rusak, otak menemukan cara untuk mengompensasi dengan kekuatan di area lain. Profesor yang tidak bisa mengenali wajah menjadi pemain catur butah yang mahir. Pria yang terjebak dalam 1945 menemukan kedamaian dalam musik dan spiritualitas. Gadis yang tidak bisa menghitung memahami puisi yang paling kompleks. Kembar autis yang tidak bisa berhitung melihat bilangan prima seperti kita melihat bunga di padang rumput.

Yang mungkin lebih penting, kita belajar bahwa cara pandang tradisional terhadap gangguan neurologis perlu diubah. Kita terbiasa melihat gangguan sebagai sesuatu yang harus disembuhkan, sebagai kerusakan yang membuat seseorang tidak normal. Padahal, kadang-kadang gangguan itu justru memberi makna, identitas, dan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan pasien sebelumnya. Kadang-kadang yang kita sebut normal hanyalah berbeda, bukan salah. Mengakui kemanusiaan mereka berarti mengakui kemanusiaan kita sendiri.

Sisanya untuk member

8 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Kesehatan & Pikiran