
Sains & Teknologi
The Precipice
Mengapa Kita Harus Bertindak Sekarang untuk Menyelamatkan Masa Depan Umat Manusia
Toby Ord
Filsuf Oxford Toby Ord mengungkap peluang satu banding enam bahwa peradaban kita akan runtuh pada abad ini—dan bagaimana kita masih bisa mengubah arah nasib.
- Waktu baca
- 16 menit
- Bagian
- 10
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu sedang bermain dadu, dan satu dari enam sisi mata dadu itu berarti kiamat. Menyeramkan? Justru itulah perkiraan filsuf Toby Ord dalam buku ini: peluang umat manusia menghadapi bencana eksistensial pada abad ke-21 adalah satu banding enam. Selama berabad-abad, kisah kiamat hanya menjadi hiburan di kitab kuno dan layar bioskop, tapi Ord menegaskan bahwa hari ini ancaman itu nyata. Peradaban kita telah mencapai titik kritis di mana teknologi yang kita ciptakan sendiri, mulai dari senjata nuklir hingga kecerdasan buatan, mampu menghapus jejak kita dari muka bumi.
Namun buku ini bukan sekadar kumpulan ramalan suram. Ord mengajak kita memetakan tiga kelompok risiko besar: bencana alam seperti asteroid dan letusan supervulkan, bencana buatan manusia seperti perang nuklir dan perubahan iklim, serta risiko masa depan seperti kecerdasan buatan yang lepas kendali. Lebih penting lagi, ia menawarkan jalan keluar yang konkret. Jika kita berhasil melewati masa rawan ini, hadiahnya sangat besar: masa depan penuh keadilan, kesehatan, dan kemakmuran bagi seluruh umat manusia. Pertanyaannya cuma satu, apakah kita mau bertindak sekarang?
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Dari perjalanan panjang menelusuri buku ini, kita belajar bahwa manusia modern berdiri di titik paling rawan sepanjang sejarah spesiesnya: teknologi kita tumbuh lebih cepat daripada kearifan kita, dan peluang bencana eksistensial pada abad ini diperkirakan satu banding enam. Kita belajar memilah ancaman menjadi tiga kelompok, yaitu bencana alam seperti asteroid, ledakan bintang, dan supervulkan yang tak bisa kita cegah namun bisa kita siapkan; bencana buatan manusia seperti perang nuklir, perubahan iklim dengan efek umpan baliknya, dan hilangnya keanekaragaman hayati; serta risiko masa depan berupa pandemi buatan laboratorium, kecerdasan buatan yang melampaui manusia tanpa sejalan dengan nilai kita, dan masa depan distopia yang mengunci potensi spesies secara permanen.
Yang lebih penting, kita belajar bahwa keputusan ada di tangan kita. Bencana berkembang melalui tahap inisiasi, pertumbuhan, dan penyelesaian, dan setiap tahap punya titik intervensinya sendiri. Kita memahami mengapa dunia lambat bertindak, yaitu karena pasar yang meremehkan kebaikan bersama, politik yang terbelenggu siklus jangka pendek, dan bias psikologis yang membuat kita merasa kiamat mustahil karena belum pernah terjadi. Dan kita menemukan bahwa jalannya jelas: kerja sama internasional, prioritas risiko yang cerdas, riset yang lebih besar, hingga kontribusi personal lewat karier, donasi, dan penyebaran kesadaran. Di balik semua peringatan itu, tersimpan pesan paling indah: masa depan manusia berpotensi sangat panjang dan sangat baik, asalkan kita melewati masa rawan ini dengan sengaja dan bersama-sama.
Sisanya untuk member
8 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



