
Sains & Teknologi
The Sociological Imagination
Menghubungkan Kisah Pribadi dengan Arus Besar Sejarah dan Masyarakat
C. Wright Mills
Mills menantang cara kita memandang ilmu sosial dan menunjukkan bagaimana imajinasi sosiologis mengubah masalah pribadi menjadi isu publik yang bisa diatasi.
- Waktu baca
- 19 menit
- Bagian
- 13
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu hidup di Amerika akhir tahun 1950-an. Di tengah kemegahan pasca perang, ada seorang sosiolog bernama C. Wright Mills yang merasa ada yang sangat salah dengan ilmu sosial zamannya. Menurutnya, para ilmuwan sosial justru bekerja untuk lembaga-lembaga yang menindas, bukan untuk memperjuangkan masyarakat yang bebas dan setara. Pertanyaannya sederhana tapi tajam: untuk siapa sebenarnya ilmu sosial itu bekerja?
Di buku The Sociological Imagination, Mills menawarkan sebuah gagasan yang mengubah cara kita memandang dunia: imajinasi sosiologis, yaitu kemampuan untuk melihat kaitan antara kehidupan pribadi kita dengan arus besar sejarah dan struktur masyarakat. Pernikahan yang retak, pekerjaan yang hilang, utang yang menumpuk, semua itu bukan sekadar masalah pribadi. Ada cerita besar di baliknya. Dan ketika kita memahami cerita besar itu, kita tidak lagi merasa pinggiran yang pasrah, melainkan warga yang bisa bertindak. Inilah podcast yang akan membahasakan gagasan besar tersebut dengan cara yang hangat, mudah dicerna, dan membuat kamu melihat hidupmu dengan mata yang berbeda.
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menemani kita menelusuri gagasan C. Wright Mills ini, ada beberapa pelajaran besar yang layak kita bawa pulang. Pertama, kebebasan bukan sekadar ketiadaan belenggu, melainkan kemampuan aktif untuk memahami, memperdebatkan, dan memutuskan di antara pilihan-pilihan. Dan musuh terbesarnya sering kali bukan tirani yang mencolok, melainkan kompleksitas yang membuat kita menyerah sebelum mencoba memahami. Kedua, imajinasi sosiologis mengajarkan kita bahwa masalah pribadi dan masalah sosial adalah dua sisi mata uang yang sama; pernikahan yang retak, pekerjaan yang hilang, dan utang yang menumpuk selalu memiliki bayangan besar di baliknya, dan memahami bayangan itu adalah langkah pertama menuju kebebasan.
Ketiga, kita belajar bersikap kritis terhadap dua godaan dalam ilmu sosial, dan mungkin juga dalam hidup kita sendiri: godaan abstraksi yang indah tetapi terputus dari kenyataan, serta godaan data yang terukur tetapi tidak pernah bertanya mengapa. Mills mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang tidak berpihak pada kebebasan manusia bisa dengan mudah menjadi alat bagi kekuasaan, terutama ketika para pelakunya menganggap semuanya hanya pekerjaan biasa. Pada akhirnya, pelajaran paling personal dari buku ini adalah ajakan untuk merefleksikan posisi kita sendiri: bagaimana masyarakat membentuk cara kita berpikir, dan bagaimana kita, dengan kesadaran itu, bisa memilih untuk terlibat daripada pasrah.
Sisanya untuk member
11 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



