
Sains & Teknologi
Unsettled
Menakar Ulang Narasi Krisis Iklim
Steven E. Koonin
Seorang fisikawan dan mantan pejabat tinggi energi mengajak Anda memeriksa data mentah di balik narasi kiamat iklim, mempertanyakan seberapa besar peran manusia dan seberapa andal model prediksi para ilmuwan.
- Waktu baca
- 13 menit
- Bagian
- 9
- Rating
- —
- Akses
- Premium
Tentang buku ini
Tentang buku ini
Bayangkan kamu duduk di sebuah kafe, lalu seorang ilmuwan berpengalaman berbisik ke telingamu: "Semua yang kamu ketahui tentang perubahan iklim mungkin tidak seburuk yang kamu pikirkan." Itulah semangat yang mengalir dalam buku Unsettled karya Steven E. Koonin. Menurutnya, para aktivis iklim telah menyesatkan publik dengan kesan seolah-olah sudah ada bukti mutlak bahwa aktivitas manusia adalah satu-satunya penyebab pemanasan global dan bencana iklim yang mengancam.
Namun tenang dulu, Koonin bukan penyangkal iklim. Ia justru mengakui bahwa iklim bumi memang menghangat dan manusia berkontribusi sebagian di dalamnya. Yang ia pertanyakan adalah seberapa besar kontribusi itu, seberapa andal model prediksi para ilmuwan iklim, serta apakah narasi kiamat iklim yang beredar di media benar-benar didukung data. Buku ini mengajak kita untuk melongok lebih dalam, memeriksa angka-angka mentahnya, dan berani bertanya: apakah sains iklim sesungguhnya sudah selesai diperdebatkan, atau justru masih penuh dengan pertanyaan terbuka?
Yang akan kamu pelajari
Yang akan kamu pelajari
Setelah menemani kita menjelajahi Unsettled, ada beberapa pelajaran besar yang layak dibawa pulang. Pertama, bahwa membaca data iklim membutuhkan ketelitian: iklim adalah rata-rata cuaca dalam puluhan tahun, bukan fluktuasi beberapa musim, dan bahkan data suhu global memuat periode pendinginan serta kenaikan permukaan laut yang terjadi jauh sebelum manusia berpengaruh besar. Kedua, bahwa model prediksi iklim punya keterbatasan metodologis yang nyata, dari ukuran grid yang terlalu besar, keterbatasan data kondisi awal, hingga praktik tuning yang bisa memengaruhi hasil. Ketiga, bahwa penyampaian sains ke publik sering terdistorsi oleh insentif media yang haus klik, politisi yang butuh pesan sederhana, dan tekanan struktural di dunia akademisi sendiri. Keempat, bahwa jalan menghadapi perubahan iklim tidak melulu soal nol emisi, tetapi juga mencakup geoengineering dan adaptasi yang sepanjang sejarah selalu menjadi keahlian manusia.
Yang terpenting, buku ini melatih kita menjadi pembaca berita dan konsumen sains yang lebih cerdas, mampu mengenali tanda-tanda berita iklim yang tidak bisa dipercaya, membedakan antara menginformasikan dan sekadar membujuk, serta berani mempertimbangkan berbagai sudut pandang tanpa langsung menelan satu narasi secara utuh. Tentu saja banyak ilmuwan iklim menolak argumen Koonin dan riset-riset terbaru sering menunjukkan temuan yang berbeda, jadi sikap paling bijak adalah membaca buku ini sebagai undangan untuk berpikir kritis, bukan sebagai kata final.
Sisanya untuk member
7 bagian lagi menunggu.
Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.



