Sampul Woke, Inc.

Karier & Bisnis

Woke, Inc.

Membongkar Wokenomics dan Korupsi di Balik Korporasi Progresif

Vivek Ramaswamy

Seorang pengusaha bioteknologi membongkar bagaimana perusahaan besar menyembunyikan keserakahan di balik dukungan palsu terhadap keadilan sosial, mengancam demokrasi, dan menawarkan lima solusi konkret untuk melawannya.

Waktu baca
13 menit
Bagian
9
Rating
—
Akses
Premium

Tentang buku ini

Tentang buku ini

Bayangkan kamu sedang berbelanja, lalu melihat sebuah merek besar mengumandangkan dukungan penuh terhadap keadilan sosial, kesetaraan, dan lingkungan hidup. Hatimu pun hangat, rasanya ingin langsung mendukung mereka. Tapi tunggu dulu—bagaimana jika semua itu hanyalah kedok? Dalam buku Woke, Inc., seorang pengusaha sukses bernama Vivek Ramaswamy membongkar apa yang ia sebut sebagai Wokenomics: fenomena di mana perusahaan-perusahaan Amerika menyembunyikan keserakahan dan korupsinya di balik kepura-puraan peduli terhadap nilai-nilai progresif.

Ramaswamy berargumen bahwa lewat Wokenomics, perusahaan tidak lagi sekadar menjual produk—mereka menjual cara berpikir dan cara hidup baru kepada masyarakat. Aliansi palsu dengan isu-isu sosial memungkinkan mereka memengaruhi legislasi, memanipulasi konsumen, dan membungkam suara-suara yang berbeda pendapat. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, praktik-praktik menipu ini perlahan melemahkan demokrasi dengan memecah belah warga dan memusatkan kekuasaan politik di tangan segelintir elite korporasi. Buku ini bukan sekadar kritik, karena Ramaswamy juga menawarkan lima solusi konkret untuk melawannya.

Yang akan kamu pelajari

Yang akan kamu pelajari

Dari perjalanan panjang membongkar Woke, Inc., kita belajar banyak hal yang mengubah cara memandang etalase belanja dan linimasa media sosial. Pertama, kita memahami evolusi kata woke—dari peringatan kepedulian di komunitas kulit hitam menjadi istilah politik yang kabur dan diperdebatkan semua pihak. Kedua, kita melihat bagaimana Wokenomics lahir dari krisis 2008: ketika reputasi korporasi hancur, stakeholder capitalism dan retorika keadilan sosial menjadi topeng penyelamat citra sekaligus mesin keuntungan—dari iklan sabun Dawn yang menyelamatkan bebek hingga Starbucks dengan perkebunannya yang mempekerjakan anak-anak.

Kita juga diajak berpikir kritis tentang pelatihan keberagaman yang lebih sering menjadi pertunjukan daripada perubahan, boikot yang bisa membebani justru konsumen paling rentan, dan bagaimana kepercayaan buta konsumen dimanfaatkan hingga level internasional—termasuk oleh pemerintah asing seperti CCP untuk mengakses data dan membentuk narasi. Pada akhirnya, Ramaswamy menawarkan lima solusi berani: merevisi Section 230, memperlakukan afiliasi politik sebagai kebebasan beragama, mewajibkan pengabdian masyarakat bagi remaja, mengganti CRT dengan Critical Diversity Theory, dan mempercayakan isu sosial kepada lembaga nirlaba. Inti dari semuanya: berhenti menjadi konsumen yang malas dan warga yang pasif, mulailah mempertanyakan, menyelidiki, dan mengambil kembali tanggung jawab sosial ke tangan kita sendiri.

Sisanya untuk member

7 bagian lagi menunggu.

Buka seluruh ringkasan mulai dari paket bulanan, atau pilih tiga bulanan. Tanpa perpanjangan otomatis.

Lainnya di Karier & Bisnis